Tim Nasional Sepak Bola Tiongkok: Mengapa Raksasa Asia Ini Terus Berjalan di Tempat?

Tim Nasional Sepak Bola Tiongkok: Mengapa Raksasa Asia Ini Terus Berjalan di Tempat?

Jujur saja, membicarakan tim nasional sepak bola Tiongkok itu kayak nonton film yang plot twist-nya selalu sama: ekspektasi tinggi, investasi gila-gilaan, tapi ujung-ujungnya antiklimaks. Kamu punya negara dengan populasi 1,4 miliar jiwa, ekonomi terkuat kedua di dunia, dan ambisi politik yang pengen banget jadi penguasa sepak bola pada 2050. Tapi, kenyataannya? Mereka bahkan sering kesulitan lawan tim-tim Asia Tenggara belakangan ini.

Sepak bola di sana bukan cuma soal 11 lawan 11. Ini soal gengsi nasional. President Xi Jinping punya "Mimpi Sepak Bola" yang jelas banget: lolos Piala Dunia lagi, jadi tuan rumah, dan akhirnya juara. Tapi jalan ke sana terjal banget. Bayangin, terakhir kali mereka masuk Piala Dunia itu tahun 2002. Waktu itu, mereka bahkan nggak cetak satu gol pun. Sejak itu, tim yang sering dijuluki Dragon's Team ini kayak kehilangan arah.

Masalah Klasik Tim Nasional Sepak Bola Tiongkok yang Sulit Sembuh

Masalahnya tuh bukan cuma di lapangan. Kalau kita bedah, tim nasional sepak bola Tiongkok terjebak dalam lingkaran setan birokrasi dan korupsi. Tahun 2023 dan 2024 kemarin jadi tahun yang gelap banget. Li Tie, mantan pelatih kepala sekaligus legenda Everton, kena skandal suap. Bayangin, posisi pelatih timnas saja bisa dibeli. Belum lagi Chen Xuyuan, mantan ketua federasi (CFA), yang kena penjara seumur hidup karena korupsi. Kalau kepalanya aja sudah bermasalah, gimana kakinya mau lari kencang?

Korupsi ini ngerusak mentalitas pemain muda. Banyak orang tua di Tiongkok akhirnya mikir dua kali buat naruh anak mereka di sekolah bola. Mahal, dan kalau nggak punya "jalur orang dalam," susah buat naik ke level profesional. Makanya, basis pemain muda mereka sebenarnya kecil banget kalau dibandingin sama negara kayak Jepang atau Korea Selatan. Kita sering ketipu sama jumlah penduduk yang miliaran, padahal yang beneran main bola secara serius itu dikit banget.

🔗 Read more: Inter Miami vs Toronto: What Really Happened in Their Recent Clashes

Naturalisasi: Solusi Instan yang Ternyata "Zonk"

Sekitar tahun 2019, Tiongkok coba cara instan. Mereka mulai kasih paspor buat pemain-pemain asing, terutama dari Brasil. Nama-nama kayak Elkeson (Ai Kesen), Ricardo Goulart, sampe Tyias Browning dari Inggris dibawa masuk. Harapannya, kualitas individu mereka bisa ngangkat level tim nasional sepak bola Tiongkok secara mendadak buat kualifikasi Piala Dunia 2022.

Tapi sepak bola nggak segampang itu. Chemistry itu nggak bisa dibeli. Para pemain naturalisasi ini sering kelihatan main sendiri-sendiri, dan komunikasi sama pemain lokal juga jadi kendala. Ditambah lagi, kebijakan pembatasan gaji (salary cap) di Chinese Super League bikin banyak klub bangkrut. Pemain-pemain mahal ini akhirnya cabut satu per satu karena gajinya nggak sanggup dibayar lagi. Proyek naturalisasi ini bisa dibilang gagal total dan malah bikin perkembangan pemain lokal makin tersendat karena posisi mereka tergeser sementara.

Kenapa Mereka Selalu Kalah dari Jepang dan Korea Selatan?

Kalau kamu liat permainan Jepang, ada sistem yang jelas. Mereka punya kurikulum dari tingkat SD sampe profesional. Tiongkok? Mereka gonta-ganti filosofi terus. Pernah coba gaya Spanyol, gaya Jerman, gaya Serbia, sekarang malah kayak nggak punya identitas. Pemain tim nasional sepak bola Tiongkok sering kelihatan panik kalau ditekan (pressing) tinggi. Ini masalah fundamental dari latihan dasar yang nggak beres.

💡 You might also like: Matthew Berry Positional Rankings: Why They Still Run the Fantasy Industry

Selain itu, pemain Tiongkok jarang banget yang berani main di Eropa. Wu Lei sempat di Espanyol dan lumayan sukses, tapi setelah dia balik ke liga domestik, nggak ada lagi suksesornya. Bandingkan sama Jepang yang bisa bikin dua tim nasional isinya pemain di Eropa semua. Main di liga lokal yang levelnya stagnan bikin pemain Tiongkok nggak terbiasa sama intensitas tinggi. Begitu ketemu tim kayak Arab Saudi atau Australia, mereka kaget sama temponya.

Harapan yang Tersisa di Bawah Asuhan Branko Ivankovic

Sekarang, tim ditangani sama Branko Ivankovic. Jujur, bebannya berat banget. Fans di Weibo (media sosial Tiongkok) itu galak-galak. Sekali kalah, hujatannya bisa bikin kena mental. Ivankovic mencoba bawa pendekatan yang lebih disiplin, tapi dia mewarisi skuad yang sudah mulai menua. Pemain andalan kayak Zhang Linpeng sudah lewat masa jayanya, sementara regenerasinya lambat banget.

Tapi, nggak semuanya suram sih. Ada beberapa talenta muda yang mulai kelihatan, walaupun belum bisa dibilang world-class. Mereka butuh waktu. Masalahnya, publik Tiongkok itu nggak sabaran. Mereka pengen hasil instan karena uang yang keluar sudah terlalu banyak. Kalau sistem pembinaan pemain mudanya nggak dirombak total dan dijauhkan dari campur tangan politik birokrat, ya bakal gini-gini aja.

📖 Related: What Time Did the Cubs Game End Today? The Truth About the Off-Season

Pelajaran yang Bisa Diambil

Melihat tim nasional sepak bola Tiongkok itu ngajarin kita satu hal penting: uang nggak bisa beli prestasi instan di sepak bola. Infrastruktur mungkin bisa dibangun dalam setahun, tapi budaya sepak bola butuh puluhan tahun. Tiongkok punya stadion-stadion megah, tapi lapangan-lapangan di pemukiman warga masih jarang. Sepak bola masih dianggap sebagai karier yang berisiko dibanding jadi pegawai negeri atau kerja di perusahaan teknologi.

Langkah Nyata untuk Bangkit

Kalau Tiongkok beneran mau serius, ada beberapa hal yang harus dilakukan secara radikal:

  • Audit Total dan Transparansi: Jangan cuma tangkap koruptornya, tapi rombak sistem seleksi pemain dari level akademi biar bener-bener berdasarkan skill, bukan uang saku.
  • Ekspor Pemain ke Eropa: Federasi harus kasih subsidi atau jalur khusus supaya pemain usia 17-19 tahun bisa masuk ke akademi di Jerman, Portugal, atau Spanyol. Jangan cuma jago kandang.
  • Kurikulum Nasional yang Konsisten: Pilih satu filosofi permainan dan pegang itu selama 10-20 tahun. Jangan ganti pelatih langsung ganti gaya main.
  • Fokus ke Akar Rumput (Grassroots): Kurangi beli bintang luar negeri yang sudah tua, alihkan dananya buat bikin kompetisi antar sekolah yang kompetitif dan gratis.

Lolos ke Piala Dunia 2026 yang slotnya ditambah buat Asia mungkin jadi target paling realistis sekarang. Tapi kalau mainnya masih sering "ngelawak" di lini belakang, ya jangan berharap banyak. Sepak bola Tiongkok butuh lebih dari sekadar mimpi Xi Jinping; mereka butuh sistem yang jujur dan kerja keras yang nggak kenal instan.

Kesimpulannya, tim nasional mereka saat ini sedang berada di titik nadir, tapi justru dari titik terendah ini biasanya perubahan besar bisa terjadi kalau ada kemauan buat jujur sama kekurangan sendiri. Kita lihat saja apakah sang Naga bisa beneran terbang atau cuma jadi mitos di lapangan hijau.

Langkah selanjutnya bagi para pengamat adalah memantau hasil kualifikasi zona Asia putaran ketiga. Performa di sana akan menentukan apakah reformasi yang dilakukan pasca skandal korupsi besar-besaran kemarin mulai membuahkan hasil atau justru memperpanjang masa suram sepak bola mereka. Fokuslah pada bagaimana integrasi pemain muda di bawah usia 23 tahun ke dalam skuad senior, karena di sanalah masa depan mereka berada.