Pernah terpikir nggak kenapa lagu yang aslinya muncul di film thriller Hitchcock tahun 1956 masih sering dinyanyikan ibu-ibu ke anaknya sampai sekarang? Lirik lagu Que Sera Sera itu simpel, bahkan mungkin terlalu simpel buat standar musik zaman sekarang. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada semacam penerimaan nasib yang bikin tenang sekaligus bikin mikir. Doris Day menyanyikannya dengan suara yang begitu jernih, seolah dia sedang membagikan rahasia paling besar di dunia lewat tiga baris kalimat Spanyol yang sebenarnya tata bahasanya agak berantakan.
Lagu ini bukan cuma soal nostalgia. Ini soal kecemasan manusia akan masa depan. Kita semua ingin tahu apa yang bakal terjadi besok, bulan depan, atau sepuluh tahun lagi. Dan lagu ini cuma bilang, "Ya udah, liat aja nanti." Agak ngeselin, tapi jujur banget.
Sejarah di Balik Lirik Lagu Que Sera Sera yang Ikonik
Jay Livingston dan Ray Evans menulis lagu ini bukan buat jadi anthem motivasi dunia. Awalnya, lagu ini dibuat untuk film The Man Who Knew Too Much. Sutradaranya, Alfred Hitchcock, pengen sebuah lagu yang bisa dinyanyikan Doris Day sebagai plot device. Jadi, kalau kamu perhatikan liriknya, itu sebenarnya sebuah narasi pertumbuhan dari anak-anak, jadi remaja, sampai jadi orang tua.
Banyak orang mengira "Que Sera, Sera" adalah pepatah Spanyol kuno yang sudah ada berabad-abad. Kenyataannya? Nggak juga. Pakar bahasa sering menunjukkan kalau kalimat itu secara tata bahasa Spanyol nggak benar-benar akurat. Harusnya mungkin "Lo que será, será." Tapi karena kedengarannya bagus dan gampang diingat, siapa yang peduli sama tata bahasa? Livingston mengaku dia melihat kalimat itu di sebuah film dan merasa itu adalah judul yang sempurna. Kadang-kadang, kesalahan kecil justru jadi sesuatu yang abadi.
Liriknya dimulai dengan pertanyaan seorang anak kecil kepada ibunya: When I was just a little girl, I asked my mother, what will I be? Will I be pretty? Will I be rich? Ini pertanyaan universal. Kita semua pernah di sana. Kita ingin jaminan bahwa masa depan kita bakal berkilau. Jawaban si ibu—Whatever will be, will be—adalah bentuk didikan agar kita nggak terobsesi pada hal-hal yang nggak bisa kita kontrol.
👉 See also: Kate Moss Family Guy: What Most People Get Wrong About That Cutaway
Makna Filosofis yang Terlupakan
Kalau kita bedah lebih dalam, lirik lagu Que Sera Sera sebenarnya mengandung filosofi stoikisme yang kental, meski dibungkus dengan melodi waltz yang manis. Hidup itu penuh variabel yang nggak pasti. Kamu bisa merencanakan segalanya sampai detail terkecil, tapi semesta punya cara sendiri buat memutar balikkan keadaan.
Banyak yang salah paham dan menganggap lagu ini mengajak kita buat jadi malas atau pasrah total. Itu salah besar. Pesan aslinya lebih ke arah kesehatan mental. Menghabiskan energi buat mencemaskan hal yang belum terjadi itu sia-sia. Bayangkan berapa banyak jam tidur yang hilang cuma karena kita mikirin "gimana kalau nanti begini" atau "gimana kalau nanti begitu." Lagu ini adalah pengingat untuk melepas beban itu.
Lagu ini juga menangkap transisi fase kehidupan dengan sangat apik. Dari masa kanak-kanak yang polos, masuk ke masa remaja yang penuh bunga-bunga cinta (When I grew up and fell in love, I asked my sweetheart, what lies ahead?), sampai akhirnya kita sendiri yang jadi orang tua dan menjawab pertanyaan yang sama dari anak kita. Siklus ini menunjukkan bahwa ketidakpastian adalah satu-satunya hal yang pasti dalam hidup manusia.
Versi yang Mengubah Nuansa Lagu
Doris Day mungkin yang paling terkenal, tapi tahu nggak kalau lagu ini sudah di-cover oleh ratusan artis dengan nuansa yang beda-beda?
✨ Don't miss: Blink-182 Mark Hoppus: What Most People Get Wrong About His 2026 Comeback
- Sly & the Family Stone: Mereka membawakan versi soul/funk yang lebih gelap di tahun 1973. Versi ini nggak terasa seperti lagu pengantar tidur, tapi lebih seperti pengakuan jujur tentang kerasnya hidup di jalanan.
- Pink Martini: Grup ini memberikan sentuhan teatrikal yang megah, membuat liriknya terasa seperti bagian dari pertunjukan kabaret tua di Eropa.
- Marcus Miller: Versi instrumen jazz-nya membuktikan bahwa melodi lagu ini memang kuat banget, bahkan tanpa kata-kata pun orang sudah tahu pesannya.
Kenapa Lirik Ini Selalu Relevan di Era Digital?
Sekarang kita hidup di zaman algoritma. Kita pengen semuanya bisa diprediksi. Kita pakai aplikasi buat prediksi cuaca, pakai data buat prediksi tren saham, bahkan pakai AI buat menebak apa yang bakal kita beli besok. Di tengah obsesi kontrol ini, lirik lagu Que Sera Sera terasa seperti tamparan yang menyegarkan.
Kita sering merasa gagal kalau masa depan nggak sesuai rencana. Padahal, ketidaktahuan itu sebenarnya adalah ruang untuk kejutan. Kalau kita sudah tahu semua yang bakal terjadi, hidup jadi ngebosenin, kan? Ketegangan antara keinginan untuk tahu dan kenyataan bahwa kita nggak akan pernah benar-benar tahu adalah inti dari pengalaman manusia.
Mungkin itu sebabnya lagu ini sering muncul di film-film yang temanya justru gelap. Hitchcock memakainya sebagai sinyal darurat. Di film Heathers, lagu ini dipakai untuk menunjukkan ironi. Ada kontradiksi antara musik yang ceria dengan lirik yang sebenarnya cukup fatalistik.
Cara Menggunakan Filosofi Que Sera Sera dalam Kehidupan Nyata
Menerapkan pesan lagu ini bukan berarti kita berhenti bikin rencana atau berhenti menabung buat masa depan. Bukan begitu mainnya. Intinya adalah membedakan antara persiapan dan kekhawatiran.
🔗 Read more: Why Grand Funk’s Bad Time is Secretly the Best Pop Song of the 1970s
- Lakukan apa yang bisa kamu lakukan hari ini dengan maksimal.
- Siapkan payung sebelum hujan, tapi jangan nangis kalau ternyata badainya nggak datang atau malah datangnya angin puting beliung yang nggak terduga.
- Berhenti mencoba "membaca masa depan" lewat kecemasan berlebih. Itu cuma bikin kamu capek sebelum berperang.
Lagu ini mengajarkan kita untuk punya emotional resilience. Saat hal buruk terjadi, kita nggak hancur berkeping-keping karena kita sudah tahu dari awal bahwa "apa yang akan terjadi, terjadilah." Begitu juga saat hal baik datang, kita belajar untuk menghargainya karena kita tahu itu bukan sesuatu yang permanen.
Mengajarkan Pesan Ini ke Generasi Berikutnya
Menariknya, di bait terakhir, penyanyi itu bercerita tentang punya anak sendiri. Now I have children of my own, they ask their mother, what will I be? Sebagai orang tua atau mentor, kita sering kali ingin memberikan semua jawaban buat anak-anak kita. Kita pengen bilang, "Kamu pasti sukses, kamu pasti bahagia." Tapi jujur saja, kita nggak tahu. Memberikan jawaban "Que Sera Sera" kepada anak-anak sebenarnya adalah memberikan mereka hadiah berupa kebebasan. Kebebasan untuk tidak terbebani oleh ekspektasi yang kaku. Kebebasan untuk tumbuh dan melihat dunia apa adanya, bukan bagaimana dunia seharusnya menurut rencana kita.
Honestnya, lagu ini adalah bentuk kejujuran paling radikal yang bisa diberikan orang tua kepada anaknya. Kita nggak janjiin dunia yang sempurna, kita cuma janjiin kalau apa pun yang terjadi, itu adalah bagian dari hidup yang harus dijalani.
Langkah Praktis Menghadapi Ketidakpastian
Setelah meresapi lirik lagu Que Sera Sera, kamu bisa mencoba beberapa langkah mental ini untuk mengurangi beban pikiran:
- Identifikasi Lingkaran Kontrol: Tuliskan hal-hal yang bikin kamu cemas. Coret semua hal yang ada di luar kendalimu (seperti pendapat orang lain, cuaca, atau keputusan ekonomi global). Fokuskan energi hanya pada daftar yang tersisa.
- Latihan Mindfulness: Saat mulai overthinking tentang masa depan, kembalilah ke indra kamu. Apa yang kamu lihat sekarang? Apa yang kamu dengar? Masa depan belum ada, yang ada cuma momen ini.
- Review Masa Lalu: Ingat-ingat kembali lima tahun lalu. Apakah hal-hal yang paling kamu cemaskan saat itu benar-benar terjadi? Dan kalaupun terjadi, apakah kamu masih berdiri tegak sekarang? Biasanya, kita lebih kuat dari yang kita duga.
Lirik lagu ini bukan sekadar baris kalimat dalam sebuah komposisi musik pop lama. Ia adalah pengingat abadi bahwa di tengah dunia yang makin kacau dan menuntut kepastian, sikap berserah diri yang aktif adalah kunci untuk tetap waras. Masa depan bukan milik kita untuk dilihat, tapi milik kita untuk dijalani saat ia tiba nanti. Percayalah, apa pun yang akan terjadi, kamu bakal punya cara buat menghadapinya.