Pernahkah kamu menonton film yang membuatmu merasa seperti baru saja bangun dari mimpi buruk yang aneh, tapi entah kenapa kamu ingin kembali ke sana? Itulah efek David Lynch. Kalau kita bicara soal david lynch film dan acara tv, kita tidak hanya bicara soal sinema; kita bicara soal frekuensi radio yang rusak di tengah hutan pada jam 3 pagi. Lynch bukan sekadar sutradara. Dia itu semacam penyihir teknis yang menggunakan seluloid untuk membedah isi kepala manusia yang paling gelap.
Jujur saja, banyak orang merasa terintimidasi saat ingin mulai menonton karyanya. Ada anggapan kalau film Lynch itu "sangat berat" atau "tidak masuk akal." Tapi sebenarnya, rahasianya cuma satu: jangan coba-coba memahaminya dengan logika otak kiri. Lynch sendiri selalu bilang kalau ide itu seperti ikan. Kamu tidak membuat ikan, kamu menangkapnya. Dan ikan-ikan yang dia tangkap biasanya punya gigi yang sangat tajam dan mata yang bersinar.
Jejak Awal yang Mengubah Segalanya
Semua bermula dari Eraserhead (1977). Bayangkan, Lynch butuh waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan film hitam-putih yang sangat mengganggu ini. Isinya tentang seorang pria dengan rambut aneh (Henry) yang harus mengurus bayi cacat yang terus-menerus menangis. Kedengarannya menjijikkan? Mungkin. Tapi bagi Stanley Kubrick, ini adalah salah satu film favoritnya. Di sini kita melihat pondasi gaya Lynchian: desain suara yang berdengung (industrial drone), visual yang kontras, dan ketakutan mendalam terhadap domestisitas.
Setelah itu, Lynch sempat masuk ke arus utama lewat The Elephant Man (1980). Ini mungkin filmnya yang paling "normal" secara struktur cerita, tapi tetap saja ada rasa empati yang menyakitkan di dalamnya. Melalui kisah Joseph Merrick, Lynch membuktikan bahwa dia bukan cuma tukang pamer keanehan. Dia punya hati. Tapi kemudian datanglah Dune (1984). Sebagian besar fans menganggap ini kegagalan terbesarnya. Lynch pun setuju. Dia kehilangan kendali kreatif, dan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah dia biarkan terjadi lagi.
Ledakan Blue Velvet dan Era Televisi
Lalu muncullah Blue Velvet (1986). Kalau kamu mau tahu apa itu inti dari david lynch film dan acara tv, tontonlah film ini. Adegan pembukanya sangat ikonik: langit biru, pagar putih, bunga merah yang indah—lalu kamera turun ke bawah tanah, memperlihatkan serangga-serangga hitam yang saling memangsa. Itu adalah metafora sempurna untuk seluruh kariernya. Di balik kesempurnaan kota kecil Amerika, selalu ada kegelapan yang busuk. Karakter Frank Booth yang diperankan Dennis Hopper masih menjadi salah satu penjahat paling mengerikan dalam sejarah film tanpa perlu kekuatan super. Dia hanya manusia gila dengan tabung oksigen.
💡 You might also like: Kiss My Eyes and Lay Me to Sleep: The Dark Folklore of a Viral Lullaby
Tapi kejutan terbesarnya justru terjadi di layar kaca. Twin Peaks (1990) mengubah sejarah televisi selamanya. Sebelum ada Lost atau True Detective, kita punya pertanyaan nasional: "Siapa yang membunuh Laura Palmer?"
- Twin Peaks bukan sekadar misteri pembunuhan.
- Ini adalah sabun operanya para pemimpi.
- Ada kopi yang enak, pai ceri, dan agen FBI yang bicara pada alat perekam bernama Diane.
- Lalu ada The Red Room dengan lantai bermotif zig-zag yang muncul di mimpi kita semua.
Sayangnya, jaringan TV (ABC) memaksa Lynch untuk membocorkan identitas pembunuhnya di musim kedua. Rating turun drastis. Lynch pergi. Dia kembali lewat film Twin Peaks: Fire Walk with Me (1992) yang awalnya dihujat habis-habisan karena terlalu gelap dan tidak lucu sama sekali, tapi sekarang dianggap sebagai mahakarya horor psikologis yang paling jujur.
Trilogi Los Angeles dan Logika Mimpi
Memasuki akhir 90-an dan awal 2000-an, Lynch semakin berani meninggalkan struktur naratif linier. Dia merilis apa yang sering disebut para kritikus sebagai "Trilogi LA": Lost Highway (1997), Mulholland Drive (2001), dan Inland Empire (2006).
Mulholland Drive awalnya adalah pilot TV yang ditolak. Untungnya ditolak, karena Lynch mengubahnya menjadi film yang sering masuk daftar film terbaik abad ke-21. Ceritanya seperti labirin. Kamu pikir kamu sedang menonton kisah gadis desa yang ingin jadi aktris di Hollywood, tapi tiba-tiba realitasnya terbelah dua. Identitas bertukar. Kunci biru muncul. Dan ada monster di belakang restoran Winkie's yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan.
📖 Related: Kate Moss Family Guy: What Most People Get Wrong About That Cutaway
Sedangkan Inland Empire adalah ujian terakhir bagi setiap fans. Durasinya tiga jam. Direkam dengan kamera digital murah tahun 2000-an yang memberikan tekstur kasar dan kotor. Ini bukan lagi film; ini adalah pengalaman sensorik. Kamu tidak menontonnya, kamu tenggelam di dalamnya.
Mengapa David Lynch Masih Relevan di Tahun 2026?
Kita berada di tahun 2026, dan dunia terasa semakin aneh. Berita buruknya, David Lynch telah meninggalkan kita secara fisik pada awal 2025 di usia 78 tahun. Kehilangannya meninggalkan lubang besar dalam budaya pop. Namun, warisannya melalui david lynch film dan acara tv terasa lebih hidup dari sebelumnya.
Kenapa? Karena Lynch menangkap sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh algoritme: misteri yang murni. Di era di mana semua film punya video "Ending Explained" di YouTube yang menjelaskan setiap detailnya, Lynch justru menolak memberikan jawaban. Dia ingin kamu merasakan sensasinya. Dia ingin kamu duduk di kegelapan dan bertanya-tanya.
Ada proyek terakhir yang sempat dikerjakan sebelum dia wafat, yang kabarnya berjudul Unrecorded Night atau Wisteria. Meski kabarnya Netflix sempat membatalkannya karena pandemi dan masalah kesehatan Lynch (emfisema yang dideritanya karena merokok seumur hidup), skripnya konon sudah ada. Naomi Watts dan Laura Dern sempat dikabarkan akan terlibat. Kita mungkin tidak akan pernah melihatnya dalam bentuk visual yang utuh, tapi itu justru menambah aura kemisteriusan seorang Lynch.
👉 See also: Blink-182 Mark Hoppus: What Most People Get Wrong About His 2026 Comeback
Langkah Praktis Menikmati Karya Lynch
Kalau kamu baru mau mulai, jangan langsung nonton Inland Empire. Kamu bakal pusing dan mungkin trauma. Coba ikuti urutan ini:
- Mulai dengan Blue Velvet: Ini adalah pintu masuk terbaik. Ceritanya masih bisa diikuti tapi keanehannya sudah mulai terasa.
- Tonton Twin Peaks Musim 1 & 2: Lewati beberapa episode membosankan di tengah musim kedua jika perlu, tapi pastikan tonton episode terakhir musim kedua yang disutradarai Lynch sendiri. Itu gila.
- Lanjutkan ke Mulholland Drive: Siapkan catatan kalau perlu, atau tonton saja sambil menikmati atmosfer noir-nya.
- Twin Peaks: The Return (2017): Ini adalah puncak kariernya. 18 jam murni visi Lynch tanpa gangguan studio. Episode 8 adalah karya seni paling radikal yang pernah tayang di televisi.
Lynch selalu mengajarkan kita untuk menghargai "ruang kosong." Suara angin, lampu yang berkedip, atau keheningan yang terlalu lama. Itu semua adalah bagian dari ceritanya. Jangan terburu-buru. Dalam dunia david lynch film dan acara tv, yang penting bukan sampai di tujuan, tapi bagaimana kamu merasa tersesat di tengah jalan.
Sekarang, coba matikan lampu, pakai headphone terbaikmu, dan putar salah satu filmnya. Jangan cari penjelasan di Google dulu. Rasakan saja ketakutannya, keindahannya, dan kopi panasnya. Dunia Lynch adalah cermin dari dunia kita yang sebenarnya: kacau, indah, dan tidak pernah benar-benar bisa dijelaskan.
Untuk mendalami estetika ini lebih jauh, kamu bisa mulai mendengarkan desain suaranya secara spesifik. Lynch sering bekerja dengan Alan Splet atau Dean Hurley. Perhatikan bagaimana frekuensi rendah (drone) digunakan untuk menciptakan rasa cemas tanpa ada monster yang muncul di layar. Cobalah menonton Twin Peaks: The Return episode 8 sebagai sebuah instalasi seni visual daripada sebuah cerita TV konvensional. Ini akan melatih matamu untuk melihat sinema bukan sebagai narasi, tapi sebagai lukisan yang bergerak.